Sabtu, 03 Desember 2011

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS)

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS)


BAB 1
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Masalah kesehatan reproduksi menjadi perhatian bersama dan bukan hanya individu yang bersangkutan, karena dampaknya luas menyangkut berbagai aspek kehidupan dan menjadi parameter kemampuan Negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Dengan demikian kesehatan alat reproduksi sangat erat hubungannya dengan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian anak (AKA).
Penyakit kelamin adalah penyakit yang cara penularannya melalui hubungan kelamin. Tempat terjangkitnya penyakit tersebut tidak semata-mata pada alat kelamin saja, tetapi dapat terjadi diberbagai tempat di luar alat kelamin. Dulu penyakit ini dikenal dengan nama “venereal diseases”, berarti penyakit Dewi Cinta menurut versi Yunani. Yang tergolong penyakit ini adalah sifilis, gonore, ulkus mola, limfogranuloma venereum, granuloma inguinale.
Dalam penelitian lebih lanjut dijumpai bahwa makin bertambah penyakit yang timbul akibat hubungan seksual sehingga nama penyakit kelamin (veneral diseases) berubah menjadi sexually transmitted disease (STD) yang dalam bahasa Indonesia menjadi penyakit menular seksual (PMS). Dari sudut epidemiologi ternyata penyakit menular seksual berkembang sangat cepat berkaitan dengan pertambahan dan terjadinya migrasi penduduk, bertambahnya kemakmuran, serta terjadi perubahan perilaku seksual yang semakin bebas tanpa batas.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran menyebabkan diketahuinya bakteri, protozoa, jamur, dan virus sebagai penyebab penyakit hubungan seksual. Sebagian besar penyakit tersebut bisa disembuhkan kecuali acquired immunodefisiency syndrome (AIDS). Di Indonesia penyakit ini sudah banyak menjalar dengan perkembangan penularan yang sangat cepat, penyakit ini dapat melumpuhkan semua kemampuan daya tahan tubuh terhadap berbagai bakteri, protozoa, jamur dan virus lainnya.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari penjelasan yang ada pada latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.    Pengertian Penyakit Menular Seksual
2.    Patofiologi Penyakit Menular Seksual
3.    Etiologi / Faktor Penyebab Penyakit Menular Seksual 
4.    Jenis – jenis Penyakit Menular Sekual
5.    Pengobatan Penyakit Menular Sekual
6.    Konsep / cara penanggulangan masalah Penyakit Menular Sekual

C. TUJUAN
a.    Tujuan umum
Untuk pemenuhan tugas mata kuliah Kesehatan Reproduksi terutama tentang Penyakit Menular Sekaual (PMS), agar mahasiswa mampu memahami lebih dalam tentang PMS dan menambah semangat belajar dengan adanya makalah ini.
b.  Tujuan khusus
1.    Untuk mengetahui pengertian Penyakit Menular Seksual (PMS).
2.    Untuk mengetahui patofisiologi Penyakit Menular Seksual (PMS).
3.    Untuk mengetahui etiologi / faktor penyebab Penyakit Menular Seksual (PMS).
4.    Untuk mengetahui jenis – jenis Penyakit Menular Seksual (PMS).
5.    Untuk mengetahui pengobatan Penyakit Menular Seksual (PMS).
6.    Untuk mengetahui konsep / cara penanggulangan masalah Penyakit Menular Seksual (PMS).





























                                                       BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Penyakit Menular Seksual

Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks. Penyakit menular seksual (PMS) atau kadang-kadang disebut infeksi menular seksual (IMS) adalah penyakit yang menyebar melalui hubungan seks. Orang awam lebih sering menyebutnya penyakit kelamin. PMS ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak dengan lesi penyakit. Selain melalui kontak seksual, PMS juga dapat menular lewat penggunaan bersama jarum suntik  dan dari ibu ke anak sebelum, selama atau setelah persalinan.
PMS terutama berisiko pada mereka yang berganti-ganti pasangan. Semakin sering Anda berganti pasangan, semakin besar risiko Anda terinfeksi PMS. Risiko PMS dapat dikurangi dengan perilaku seks yang aman.
PMS memengaruhi baik pria maupun wanita. Namun, masalah kesehatan dan konsekuensi jangka panjang PMS cenderung lebih parah pada wanita. Beberapa PMS dapat menyebabkan infeksi radang panggul, abses tuba falopi/ovarium, dan parut organ reproduksi yang dapat menyebabkan kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim), infertilitas dan bahkan kematian.

B. Patofisiologi
Menurut Karang Taruna(2001), sesuai dengan sebutannya cara penularan Penyakit Menular Seksual ini terutama melalui hubungan seksual yang tidak terlindungi, baik pervaginal, anal, maupun oral. Cara penularan lainnya secara perinatal, yaitu dari ibu ke bayinya, baik selama kehamilan, saat kelahiran ataupun setelah lahir. Bisa melalui transfuse darah atau kontak langsung dengan cairan darah atau produk darah. Dan juga bisa melalui penggunaan pakaian dalam atau handuk yang telah dipakai penderita Penyakit Menular Seksual(PMS).
Perilaku seks yang dapat mempermudah penularan PMS adalah :
1.      Berhubungan seks yang tidak aman (tanpa menggunakan kondom).

MICRO TEACHING

 KETERAMPILAN MEMBERI PENGUATAN


A.     PENGERTIAN DAN RASIONAL
1.      Pengertian
Pada umumnya penguatan (penghargaan) mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan manusia, yaitu mendorong seseorang memperbaiki tingkah laku dan memperbaiki usahanya serta menghindari berbuat negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Dalam pembelajaran pemberian penguatan itu adalah respons guru yang berupa pujian baik berupa kata-kata, kalimat, symbol maupun gerakan/isyarat terhadap tingkah laku siswa yang baik seperti jawaban yang benar terhadap pertanyaan atau perintah guru yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku itu baik oleh anak yang bersangkutan maupun siswa lainnya.

2.      Rasional
Memberi penguatan dalam kegiatan pembelajaran, meskipun sederhana hal tersebut merupakan tanda persetujuan guru terhadap tingkah laku siswa, yang antara lain dinyatakan dalam kata-kata  membenarkan, kata-kata pujian, senyuman atau anggukan. Walau demikian banyak guru tidak melaksanakannya.tidak  jarang kita temui guru-guru yang hanya memberikan komentar negative terhadap tingkah laku siswa yang salah, dan jarang sekali atau tidak pernah memberikan respon positif terhadap tingkah laku siswa yang baik. Padahal pemberian penguatan dalam kelas akan mendorong siswa meningkatkan usahanya dalam kegiatan pembelajaran dan mengembangkan hasil belajarnya. Oleh karena itu  diperlukan pemahaman serta latihan teratur dan terarah agar guru-guru atau calon-calon guru menguasai cara memberikan penguatan dan dapat menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran.

B.    TUJUAN DAN PENGGUNAAN DALAM KELAS
1.      Tujuan
Pemberian penguatan yang dilakukan secara bijaksana dan sistematis dapat sehingga dicapai tujuan berikut:
a.     Peningkatan perhatian siswa
b.     Membangkitkan dan memelihara motivasi siswa
c.      Memudahkan siswa belajar karena siswa dapat belajar dari jawaban temannya yang dinyatakan benar oleh guru.
d.     Mengontrol dan mgengubah tingkah laku siswa yang kurang positif serta mendorong timbulnya tingkah laku yang produktif.

2.      Prinsip penggunaan
Prinsip penguatan secara efektif harus memperhatikan tiga prinsip yaitu:
a.     Kehangatan dan keantusiasan
Penguatan harus diberikan oleh guru dengan cara yang hangat dan antusias. tampilan kehangatan dan keantusiasan itu bisa dilihat dari suara, mimik, dan gerakan badan atau sikap guru.
b.     Kebermaknaan
Penguatan yang diberikan guru bermakna jika sesuai dengan tingkah laku dan penampilan serta sulitnya pertanyaan guru. jika pertanyaan guru sulit, lalu dijawab benar oleh siswa maka penguatan yang diberikan akan bermakna jika guru mengatakan “bagus sekali”. Sebaliknya jika guru hanya memberi penguatan “bagus” maka penguatan itu akan kurang bermakna.
c.      Menghindari penggunaan penguatan negative
Prinsip ini mengingatkan guru agar respon negative seperti komentar bernada menghina atau ejekan yang kasar tidak dilakukan karena dapat mematahkan motifasi siswa dalam menjawab pertanyaan guru.bagi siswa yang menjawa salah sebaiknya dipindahkan kepada siswa lain untuk menjawabnya. Jika jawaban siswa lain itu benar, maka suruh siswa yang jawabannya salah tadi untuk menirukan jawaban siswa lain itu.jika ia bisa meniruan dengan baik  maka diberi penguatan.

3.      Cara penggunaan
Pemberian penguatan dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu:
1)     Penguatan kepada pribadi tertentu
Penguatan harus jelas ditujukan kepada siswa tertentu tentang menyebut namanya, sambil memandang kepadanya. Penguatan yang kurang jelas kepada siapa ditujukan, akan kurang efektif.
2)     Penguatan kepada kelompok siswa
Kadang-kadang penguatan dapat pula diberikan kepada sekelompok siswa, umpamanya apabila satu tugas telah diselesaikan dengan baik oleh satu kelas. Boleh juga penguatan diberikan secara verbal saja.
3)     Pemberian penguatan dengan segera
Penguatan sebaiknya diberikan segera setelah munculnya tingkah laku atau respon siswa yang diharapkan. Begitu siswa menjawab dengan benar, guru langsung memberikan penguatan. Penguatan yang pemberiannya ditunda, akan kurang efektif.
4)     Variasi dalam penggunaan
Bila kata pujian yang serupa saja digunakan sebagai penguatan, maka nilainya akan berkurang. Perlu ada variasi baik dalam cara penggunaan maupun dalam jenis penguatan.


C.    KOMPONEN KETERAMPILAN MEMBERI PENGUATAN
Pada dasarnya ada tiga kelompok komponen penguatan, yaitu penguatan verbal, penguatan non verbal, dan penguatan dilihat dari cara pemberiannya.
1.      Penguatan verbal
Penguatan verbal dapat dinyatakan dalam dua bentuk, yaitu
a.     Kata, seperti: bagus, baik, ya,seratus, benar, bagus sekali, baik sekali, benar sekali, dan sebagainya
b.     Kalimat, seperti: pekerjaanmu baik sekali, kamu anak yang pandai, prestasimu sangat bagus, dan sebagainya.

2.      Penguatan non verbal
a.     Penguatan berupa mimik dan gerakan badan dengan senyuman atau anggukan.
b.     Penguatan dengan cara mendekati. Penguatan dengan cara mendekati adalah mendekatnya guru kepada mahasiswauntuk menyatakan perhatian dan kesenangannya terahadap pekerjaan, tingkah laku dan penampilan siswa. Penguatan ini berfungsi sebagai usaha memperkuat penguatan verbal. Biasanya juga disertai penguatan berupa sentuhan.
c.      Pengutan dengan sentuhan
Guru dapat menyatakan persetujuan dan penghargaan terhadap usaha dan penampilan siswa dengan menepuk-nepuk bahu atau menjabat tangan siswa yang berprestasi. Cara ini harus digunakan dengan pertimbangan yang saksama sesuai dengan usia, jenis kelamin dan latar belakang kebudayaan setempat.
d.     Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
Guru dapat memberi penguatan dengan (berupa) kegiatan atau tugas-tugas yang menyenangkan. Tugas dan kegiatan yang menyenangkan tersebut harus berhubung (relevan) dengan unjuk kerja yang diberi penguatan. Misalnya siswa yang penyelesaian matematikanya benar semua, diberi penguatan berupa tugas mengajari temannya yang belum bisa.
e.     Penguatan berupa symbol atau benda
1)     Penguatan berupa symbol seperti tanda (V), komentar tertulis pada siswa, angka (100), huruf (A), dan sebagainya
2)     Penguatan berupa benda seperti lencana, peneliti, buku, balpoin, sepeda, dan sebagainya
Penguatan ini jangan terlalu sering agar tidak menjadi kebiasaan mengharapkan sesuatu.

3.      Dilihat dari cara pemberian penguatan, dapat berupa
a.     Pengutan tak penuh
Komponen penguatan ini dilakukan bila siswa memberi jawban yang hanya sebagian saja benar, hindari respon negatif terhadap jawaban tersebut.
Contoh:
“Ya, jawaban sudah baik, tetapi masih perlu disempurnakan.”
b.     Penguatan yang ditunda
Penguatan diberikan degan syarat, yaitu jika tugas atau pertanyaan guru telah selesai dilakukan dengan baik.
Contoh:
“jika kamu7 dapat mengerjakan 10 soal matematika ini dengan benar, kamu boleh pulang lebih dahulu.”